FernandaBastian.com – Sobat edukasi, kali ini saya akan berbagi mengenai apa itu abbulo sibatang dan maknanya dalam pendidikan. Mungkin istilah ini sangat jarang kita dengar, tapi ini merupakan salah satu kebudayaan yang berasal dari Sulawesi Selatan. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut.
PENGERTIAN ABBULO SIBATANG
Abbulo sibatang merupakan filosofi yang berasal dari tanah Bugis Makassar. pada dasarnya abbulo sibatang artinya sebatang bambu. Selain itu, abbulo sibatang mengandung refleksi kehidupan belajar dari kerukunan pohon bambu. pertumbuhan pohon bambu bisa di katakan lambat. Lambat bukan berarti tidak tumbuh tetapi kita tidak melihat secara kasat mata pertumbuhan tersebut.
pertumbuhan pohon bambu pada fase awal berfokus pada akarnya, bukan pada batang. Pohon bambu sedang menyiapkan akar yang akan menjadi fondasi yang kuat agar bisa menopang pohon bambu yang akan tumbuh tinggi. Dengan kata lain jika di kaitkan dengan manusia bahwa betapa pentingnya fondasi yang kuat untuk menjalani kehidupan ini. Masih banyak lagi filosofi yang bisa kita ambil dari pohon bambu. Oleh karena itu berikut delapan makna pilar dari abbulo sibatang khusus kaitannya dalam dunia pendidikan.
Baca juga:
Makna ABBULO SIBATANG DALAM PENDIDIKAN
1. Masiturui ri Lalempanua (Saling Seia Sekata dalam Kelompok)
Masiturui ri lalempanua merupakan pilar Pertama yang bermakna bahwa dalam suatu kelompok ketika kita bersama sama, semua anggota harus sepakat tentang suatu hal ataupun tujuan yang ingin di capai. Jika di kaitkan dalam pembelajaran bermakna bahwa Ketika kita belajar dalam suatu kelas, semua harus sepakat dan pemahaman Ketika ada materi yang di sampaikan. Inti dari pilar ini adalah persamaan persepsi yang harus di miliki dalam bekerja secara kelompok dalam mencapai tujuan/target bersama. Misalnya dalam praktikum semua anggota harus sepakat dengan hasil praktikum mereka perolah sehingga mereka melaporkan hasil praktikum yang sama.
2. Sialempurengngi (Saling Jujur)
Sialempurengngi berarti saling jujur merupakan sifat yang harus di miliki oleh seseorang di mana pun berada dalam keadaan apa pun. prinsip mendasar ini harus di miliki semua manusia baik itu di lingkungan sosial yang luas, dan terlebih di lingkungan pendidikan. Jika di kaitkan dengan pembelajaran maka pilar ini sangat penting di miliki oleh seseorang siswa sebab sifat ini dapat menciptakan ketenteraman Susana kelas dan menjauhkan siswa dari kecurangan yang biasa terjadi. Inti dari pilar ini yaitu kejujuran harus di junjung tinggi dalam segala hal. Termasuk pembelajaran. Salah satu contohnya adalah kejujuran dalam hal ujian. siswa harus jujur dalam mengerjakan ujian sehingga uji kemampuan setiap siswa benar-benar sesuai dengan kenyataan.
3. Siangke’ Tongengngi (Saling Menghargai)
Pilar ketiga ini yaitu saling menghargai. Untuk menciptakan Susana nyaman dan tenteram dalam suatu kelompok sosial, seperti kelompok dalam kelas, Setiap siswa harus bisa menghargai teman kelasnya terlebih kepada gurunya. Inti dari pilar ini yaitu bahwa Ketika kita belajar kita harus bisa saling menghargai agar sauna nyaman dalam belajar dapat tercipta. Siswa tidak boleh membeda- bedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Misal perbedaan dari segi pemahaman dalam kelas, di haruskan siswa yang memahami materi dengan baik tidak boleh merendahkan siswa yang kurang memahami materi. mereka harus menghargai satu sama lain, bahkan sangat di harapkan bahwa siswa yang memahami materi dengan baik membantu siswa lain dalam memberi pemahaman tentang suatu materi.
4. Siakkasirisengngi (Saling Memelihara Malu Atau Tidak Saling Mempermalukan)
Pilar yang ke empat yaitu saling memelihara malu atau tidak saling mempermalukan. Ketika Dalam aktivitas pembelajaran tentunya membutuhkan interaksi sosial, baik itu interaksi antar siswa maupun dengan guru. Agar interaksi tersebut dapat berjalan dengan baik siswa harus menjaga martabat dan kehormatan sesama teman bahkan sesama manusia. Inti dari pilar ini adalah bahwa menjaga kehormatan orang lain itu wajib, dan tidak boleh saling menjatuhkan / mempermalukan dalam proses pembelajaran. Misalnya dalam sebuah pembelajaran diskusi, seorang siswa melakukan kesalahan dalam menjelaskan suatu teori, namun ternyata ada temannya yang lebih paham tentang teori terkait. maka temannya tersebut tidak boleh memotong pembicaraan si pembicara dengan cara kasar yang terkesan mempermalukan serta tidak boleh menjudge atas ke tidaktahuan si pembicara tersebut. Akan tetapi ia bisa meluruskan dengan cara penjelasan yang lebih jelas tanpa memperlihatkan atau bahkan sangat di larang menghina si pembicara tadi.
5. Jak Nauruk Deceng Nauruk (Saling Bersama Dalam Suka Maupun Duka)
Pilar yang kelima yaitu saling Bersama dalam suka maupun duka. Kehidupan sosial dalam skala besar atau bahkan dalam skala kecil seperti di lingkungan sekolah. Inti dari pilar ini yaitu agar terjalin hubungan yang harmonis antar siswa dalam kelompok, maka harus saling bersama-sama dalam keadaan suka maupun duka. Harus saling membantu satu sama lain dan tidak egois dalam pembelajaran. Misalnya ada seorang siswa yang meraih prestasi, maka seluruh siswa dalam sekolah tersebut bangga dan memberi ucapan selamat. Tanpa ada seorang siswa pun yang merasa iri dengki atas prestasi tersebut.
6. Tessienreseng Ri Bulu’e Tessinoreng Ri Lompo’e (Tidak Melakukan Persaingan Yang Merusak)
Pilar yang keenam yaitu tidak melakukan persaingan yang merusak. Ini penting dalam dunia pendidikan, sebab jiwa kompetitif (persaingan) sangat di butuhkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini di lakukan agar kemampuan dalam diri setiap individu selalu di asah sehingga akan menghasilkan sember daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Namun, perlu di catat bahwa persaingan yang di maksud adalah persaingan yang sehat tanpa ada kecurangan sedikit pun. Inti dari pilar ini yaitu bahwa persaingan boleh kita lakukan dalam pembelajaran, tetapi tetap harus saling menghargai dan saling menghormati . Jangan sampai ada persaingan yang melibatkan kecurangan karna ini dapat memunculkan persaingan yang tidak sehat/merusak. Sebagai contoh dalam dunia pendidikan, setiap akhir semester selalu di adakan asesmen untuk mengukur hasil belajar siswa. Siswa saling berlomba-lomba dalam memperoleh nilai terbaik. Namun dalam aktivitas tersebut terkadang terdapat siswa yang melakukan kecurangan seperti menyontek saat ujian.
7. Tessicirinnalangngi Ri Sitinajae (Tidak Saling Menyayangkan Dalam Memberikan Yang Sepantasnya)
Pilar yang ketujuh yaitu tidak saling menyayangkan dalam memberikan yang sepantasnya. Ketika berada dalam suatu kelompok, seperti halnya dalam lingkup sekolah. Setiap siswa tidak boleh menyayangkan dalam memberi bantuan/pertolongan yang bermanfaat bagi siswa lain. Tidak boleh memberi hal hal yang salah atau tidak pantas. Inti dari pilar ini adalah saling tolong menolong dan membantu sesama dalam pembelajaran . Misal siswa lain belum paham terhadap suatu materi, maka yang lain harusnya memberi penjelasan kepada siswa yang belum paham. Tanpa berfikir bahwa mereka akan mengalahkan prestasi siswa yang sudah paham tersebut.
8. Sipattongengngi Ri Akkunae (Saling Membenarkan Jika Memang Benar Adanya)
Pilar yang ke delapan yaitu saling membenarkan jika memang benar adanya. Sesuatu yang benar adanya harus kita benarkan meskipun kita tidak se pemahaman akan hal itu. Ketika suatu hal benar, maka kita harus menerima dan membenarkan kebenaran itu. Inti dari pilar ini yaitu bahwa kebenaran itu harus di tegakkan dalam keadaan apa pun. Seperti halnya dalam fisika, kerap kali di lakukan percobaan-percobaan, terkadang dalam percobaan tersebut siswa memperoleh data tidak sesuai dengan teori yang ada. Maka dalam keadaan tersebut mereka dapat memanipulasi data sehingga datanya sesuai dengan teori. Akan tetapi dalam suatu kelompok di harapkan mereka saling membenarkan tentang suatu hal yang mereka peroleh dalam percobaan. mereka juga melaporkan sesuai apa yang mereka peroleh itu melalui sebuah diskusi mufakat.
Kedelapan pilar di atas merupakan pilar penting yang harus di junjung tinggi dalam melakukan proses pembelajaran. Dengan menerapkan ke delapan pilar tersebut, di harapkan peserta didik tidak hanya mempunya kemampuan kognitif yang baik, tetapi juga kemampuan sikap spiritual dan sosial. Ketika ke semua sikap tersebut dalam di terapkan dengan baik, maka tujuan Pendidikan dapat tercapai.
Demikian penjelasan tentang abbulo sibatang dan maknanya dalam pendidikan, silakan kunjungi Fernandabastian.com untuk artikel lainnya. Terima kasih telah singgah, semoga bermanfaat.



